WHAT'S NEW?
Loading...
Bagi para penggemar elektronika atau orang-orang yang bergelut dengan alat-alat elektronika pasti mengenal benda yang disebut dengan resistor, sering disingkat dengan huruf “R”.  Resistor adalah salah satu komponen yang umumnya bebentuk tabung kecil dengan gelang-gelang warna dan memiliki dua kaki memanjang. Fungsi alat ini, sesuai dengan namanya adalah menghambat atau menahan arus listrik dalam suatu rangkaian. Dengan adanya resistor, maka arus listrik dalam rangkaian elektronika dapat diperkecil, dibagi, atau ditingkatkan. Apabila komponen ini rusak, atau bocor maka arus listrik akan mengalir tak terkendali, akibatnya komponen lain akan rusak, maka hancurlah rangkaian itu.

Dalam hidup ini kadang-kadang kita mengalami adanya hambatan-hambatan yang diijinkan Tuhan. Hal itu terjadi dengan maksud supaya iman kita dapat berfungsi dengan baik. Iman dapat menjadi aktif justru pada saat terjadi kendala dalam keseharian kita. Demikian juga di dalam bisnis, adanya kendala atau masalah merupakan tantangan yang dapat memacu produktifitas dan kreatifitas. Pemazmur mengatakan bahwa tertindas itu baik baginya, supaya ia belajar ketetapan-ketetapan Tuhan. Artinya, tekanan, hambatan atau kendala yang kita hadapi sehari-hari sebenarnya merupakan kesempatan bagi kita untuk berubah dan menjadi lebih baik. Proses belajar pada prinsipnya adalah try, try and try again (coba, coba dan coba lagi).

Kita bisa saja, bahkan mungkin sering mengalami hambatan, namun secara garis besar rencana Tuhan tetap akan dinyatakan dalam hidup kita. Yang Tuhan kehendaki adalah respon atau tanggapan kita dalam mengatasi tantangan itu. Kalau seseorang menyerah, maka ia tidak akan menerima apa-apa. Sebaliknya kalau seseorang mampu mengatasi hambatan dalam hidupnya, ia akan keluar sebagai orang yang sukses.

( Gideon Anang Prakosa )

Spare part atau suku cadang kendaraan bermotor memiliki jenis yang beragam. Meskipun banyak bagian yang hanya dipahami oleh para montir atau teknisi, namun beberapa di ataranya dikenal oleh orang awam, karena seringkali dilihat. Salah satu di antaranya adalah busi. Hampir semua orang mengerti benda ini. Busi adalah komponen yang berfungsi untuk memercikkan bunga api di dalam ruang bakar. Percikan bunga api ini dihasilkan dari tegangan tinggi antar electrode yang dibangkitkan oleh ignition coil. Temperatur di dalam ruang bakar dapat mencapai 2500 derajat Celsius dan tekanannya mencapai 50 kg/cm2. Bahan bakar yang dibakar dalam silinder adalah campura uap bensin dan udara yang tersedia dalam karburator. Campuran bahan bakar ini diledakkan oleh panas percikan api yang terjadi di antara electrode busi. Ledakan mendorong piston yang terhubung dengan poros engkol, dan selanjutnya tenaga gerak ini benar-benar gerak yang menjalankan mesin.

Apabila busi tidak menimbulkan percikan bunga api, maka sebagus dan sekuat apapun sebuah mesin tidak dapat berfungsi dan menghasilkan gerak. Demikian juga kalau sukacita, semangat hidup dan keceriaan sebagai “percikan bunga api” dari kehidupan hilang dari diri manusia, maka pada hakekatnya manusia itu tinggal menunggu kematian belaka. Sebab pada dasarnya manusia yang tidak kreatif, manusia yang pasif bukanlah manusia sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Kesedihan dan kesesakan hidup kadang-kadang membuat orang yang mengalaminya menjadi lemah dan tidak bergairah hidupnya. Seringkali karena beban hidup yang menghimpit terus menerus, sukacita dan keceriaan hidup menjadi lenyap.

Amsal 18:14  mengatakan: “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  Oleh karena itu menjaga hati kita tetap gembira dan ceria menjadi sesuatu yang penting.  Memang kesedihan dan masalah selalu ada di sepanjang hidup kita, namun hal itu tidak boleh merenggut damai sejahtera dan sukacita yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita. “ … jangan kamu bersusah ati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”  (Nehemia 8:11 b ).

( Gideon Anang Prakosa )

Tidak setiap orang dapat menyebut dirinya seorang fotografer, sekalipun banyak orang dapat menggunakan kamera dan mengambil gambar. Permasalahannya terletak pada gambar yang dihasilkan. Gambar hasil jepretan seorang fotografer terlatih memiliki sisi keindahan dan kekuatan yang mampu berbicara. Mengapa demikian? Karena seorang fotografer tahu persis kapan ia harus membidikkan kamera ke obyek yang diabadikan. Dibutuhkan sikap sabar dan enerjik untuk menangkap momen yang tepat. Tanpa momen, keberhasilan dari suatu foto tidak akan tercapai, sekalipun penyinaran dan hal teknis lainnya sudah tepat.

Demikian juga, salah satu kunci kesuksesan kita dalam hidup ini adalah melakukan sesuatu tepat pada waktunya. Kita harus belajar melakukan sesuatu menurut waktu Tuhan bukan waktu kita. Diperlukan iman dan kesabaran agar kita bisa melakukan sesuatu menurut waktu Tuhan. Yesus begitu berhasil selama pelayanan-Nya di dunia ini sebab Ia selalu melakukan sesuatu tepat pada waktunya.

Seperti Saul, kita seringkali mengambil tindakan atau keputusan sendiri mendahului Tuhan, apalagi jika kita sedang menginginkan sesuatu. Seharusnya kita menunggu waktu Tuhan dengan sabar; kegagalan itu sering disebabkan oleh emosi yang bergolak di dalam diri kita!Marilah kita belajar untuk menyerahkan emosi kita ke bawah pengendalian Roh Kudus, agar kita tidak terpancing menuruti dorongannya. Ingatlah bahwa pengendalian diri adalah salah satu dari buah Roh ( Galatia 5:22 ). Jika sudah waktunya Tuhan, maka segala sesuatu seperti yang dikehendakiNya pasti terjadi.


( Gideon Anang Prakosa )